05
Oct

’bout Teologi Pembebasan…

Saya sangat terkesan dengan tulisan di bawah ini, kecuali beberapa paragraf terakhir…  selamat menyimak…
-prana S-
Bayang-bayang Teologi Pembebasan
Amerika Latin tempoe doeloe. Camilo Torres, seorang pastor, sosiolog, dan gerilyawan, dibunuh pasukan Kolombia di pegunungan berhutan di Bucaramanga pada 15 Februari 1966. Di Desa Ribeiro Bonito, Brasilia Selatan, pada 11 Oktober 1976. Pastor Desa Pater John Bosco Burnier SJ (Serikat Jesus) ditembak mati oleh seorang kopral karena mencoba menyelamatkan dua wanita yang dianiaya sang kopral dan kawan-kawannya. Pater Rutilio Grande SJ dibantai The White Warrior Union–pasukan penjagal manusia dan pelindung tuan tanah–di sebuah desa di San Salvador, 12 Maret 1977.

Kisah di atas dikutip dari buku Teologi Pembebasan susunan Fr. Wahono Nitiprawiro. Masih banyak lagi para pengabar Injil di benua yang 90% penduduknya menganut Katolik itu menghadapi risiko kematian, karena berpihak atau bahkan bergabung dengan rakyat Amerika Latin yang bergolak untuk membebaskan diri dari kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan.
Mereka, para pengabar Injil yang tewas itu, adalah para penganut Teologi Pembebasan, sebuah paham baru tentang peranan gereja dalam lingkungan sosial. Paham ini mulai mengagetkan kalangan gereja dan intelektual di Eropa dan Amerika setelah Gustavo Gutierrez –pastor dari Peru– menerbitkan buku Teologia de la Liberacion pada 1971. Paham ini menjadi kontroversial karena memiliki metode pendekatan yang tak biasa dilakukan kalangan gereja ketika itu, yakni pendekatan marxis yang radikal.
Secara ringkas, apa yang dimaksud dengan paham itu sebenarnya adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya. Dalam kasus kelahiran Teologi Pembebasan, masalah kongkret yang dihadapi adalah situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat.
Sejak depresi dunia pada 1930-an, perekonomian negara-negara di Amerika Latin begitu bergantung pada ekspor barang mentah ke Eropa dan Inggris. Sebaliknya, mereka mengimpor komoditas pabrik. Sesudah Perang Dunia II, harga barang-barang mentah jatuh di pasaran dunia. Akibatnya perekonomian negara-negara itu kacau. Mereka juga tak mampu mengimpor barang-barang pabrik. Untuk memenuhi kebutuhan barang pabrik di dalam negeri, negara-negara itu mencanangkan modernisasi dengan memacu industrialisasi atas bantuan negara maju. Mereka menerapkan sistem kapitalisme sebagai model modernisasi.
Namun karena mementingkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi telah menciptakan kesenjangan sosial yang begitu tajam. Kaum proletar –kelas buruh– tumbuh dengan cepat. Inflasi melambung, biaya hidup membubung. Ketidakpuasan meluas. Situasi politik menjadi tegang dan labil. Kudeta terjadi di mana-mana dan membuahkan pemerintahan diktator. Pada 1945, misalnya, kelompok militer di Brasilia menggulingkan pemerintahan sipil. Pada tahun yang sama, Kolonel Juan Peron menjadi penguasa tunggal Argentina, setelah mengudeta penguasa sebelumnya. Tahun 1948, Manuel Odria menjadi diktator di Peru. Dan penindasan terhadap rakyat terjadi hampir di seluruh belahan Amerika Latin.
Kondisi tersebut mengundang gerakan di berbagai bidang. Dalam literatur sosiologi dan ekonomi politik, penerapan sistem kapitalisme dalam pembangunan di Amerika Latin telah melahirkan pemikir-pemikir baru di bidang sosiologi dan ekonomi politik. Misalnya Andre Gunder Frank–orang Amerika Serikat yang pernah tinggal di Amerika Latin–dan Fernando H. Cardoso. Dengan menggunakan pendekatan neomarxis, mereka melahirkan teori dependensi (ketergantungan) dalam memandang nasib negara-negara di Dunia Ketiga. Selama ini, kata mereka, modernisasi di negara-negara Amerika Latin dan negara Dunia Ketiga lainnya justru melahirkan para penguasa mapan, pemilik modal besar, tuan tanah, dan kaum elite yang mengeksploitasi rakyat.

Bantuan negara maju dalam proses modernisasi –yang justru membuat Dunia Ketiga begitu bergantung pada negara maju– juga memberi andil besar dalam memiskinkan rakyat Dunia Ketiga. Mereka para penganut teori dependensi berpendapat, untuk mengakhiri kekuasaan para elite yang mapan, juga dominasi negara maju, dibutuhkan revolusi sosialis. Dalam kaitannya dengan pembangunan ekonomi, mereka beranggapan, diperlukan penjungkirbalikan struktur ekonomi, politik, dan sosial dengan meminjam pendekatan marxis.
Di bidang keagamaan, terjadi pergeseran pandangan teologis di kalangan Gereja Katolik di seantero Amerika Latin. Disebutkan dalam buku Teologi Pembebasan, selama berabad-abad gereja di Amerika Latin menganut pemahaman teologi Barat (Eropa) yang bersifat transendental dan rasional, yang berkutat dalam upaya memahami Tuhan dan iman secara rasional. Para uskup Amerika Latin menilai, cara berteologi Barat telah menimbulkan kemandekan berpikir, bertindak, dan menjauhkan gereja dari masaah-masalah kongkret. Gereja-gereja penganut teologi Barat, tuding mereka, hanya sibuk mengkhotbahkan ajaran Yesus sejauh menyangkut hidup pribadi, mengimbau orang agar tetap bertahan dan sabar menghadapi penderitaan, menghibur kaum miskin dan tertindas dengan iming-iming surga setelah kematian.

Menurut mereka, gereja harus secara nyata melibatkan diri dan berpihak pada rakyat yang tak berdaya. Agama dan teologi, lanjut mereka, tak boleh meninabobokan umat beriman, melainkan harus memberikan dorongan kepada rakyat untuk melakukan perubahan. Namun keterlibatan rakyat hanya mungkin dibangkitkan bila mereka memiliki harapan untuk mengubah sistem yang menindas mereka. Rakyat harus disadarkan bahwa penderitaan, kemiskinan, dan keterbelakangan bukan nasib turunan, melainkan buah dari struktur sosial-ekonomi-politik yang berlaku. Kesadaran baru, kata para uskup, hanya dapat timbul bila rakyat bertambah pandai. Untuk itu gereja memelopori upaya pembebasan tingkat intelektual dengan mendirikan Universitas Javeriana di Bogota, Kolombia (1937), Universitas Katolik di Lima (1942), di Rio de Janeiro dan Sao Paulo (1947), Porto Alegre (1950), Campinas dan Quito (1956), Buenos Aires dan Cordoba (1960), dan lain-lain.
Bersamaan dan berkaitan dengan pendirian universitas Katolik, mulai muncul aksi-aksi Katolik di Kuba, Argentina, Uruguay, Kosta Rika, Peru, dan Bolivia. Organisasi pemuda aksi Katolik tumbuh dengan cepat. Di Argentina, misalnya, pada 1934, jumlah anggotanya baru 600 orang. Tapi tahun 1953, sudah mencapai 8000 orang. Di Brasil, pada 1953 baru 15.000. Tahun 1961 meningkat ke angka 120.000 orang. Organisasi buruh juga makin populer. Pada 1954, baru ada empat negara yang mempunyai Serikat Buruh Nasional. Tapi pada 1960-an, hampir semua negara Amerika Latin mempunyai Serikat Buruh Nasional, kecuali Kosta Rika, Guatemala, dan Kuba. Total ada 23 Serikat Buruh Nasional dengan anggota militan sekitar satu juta orang. Menurut buku Teologi Pembebasan, itu ada hubungannya dengan upaya gereja untuk menciptakan kaum awam yang militan.
Untuk melembagakan kesadaran baru di bidang teologi itu, para uskup Amerika Latin membentuk Consejo Episcopal Latino-Americano (Celam)–sidang para uskup Amerika latin–Di Rio de Janeiro, Brasil, pada 1955. Peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak diterapkannya “sistem kolegialitas antar uskup” dan ditinggalkannya sistem patronato yang telah diterapkan sejak abad ke-13. Dalam sistem patronato, gereja berada di bawah kekuasaan penguasa. Para uskup cenderung berkompromi bahkan berpihak kepada para penguasa politik, walaupun penguasa itu menyengsarakan rakyat. Sedangkan dalam sistem kolegialitas, gereja tak lagi berada di bawah payung penguasa politik. Mereka dapat bergerak bebas untuk menyentuh masalah ekonomi, politik, dan budaya. Hal ini mengantar mereka untuk melancarkan gerakan pembebasan bagi rakyat tertindas, walau dengan risiko dimusuhi penguasa.
Gerakan pembebasan itu makin gencar setelah Konsili Vatikan II –sidang resmi para uskup sedunia– pada 1962 memerintahkan agar Gereja Katolik memikirkan masalah-masalah aktual, umpamanya, turut memajukan kebudayaan, ekonomi, dan ikut mewujudkan perdamaian dunia.
Apa yang dicanangkan Konsili Vatikan II tersebut menjadi salah satu alasan para uskup Amerika Latin untuk menggelar Sidang Celam II di Medellin, Kolombia, pada 1968. Ringkasnya, sidang itu menyimpulkan bahwa penindasan di Amerika Latin telah menjelma menjadi kekerasan yang melembaga (institutionalized violence) dan terjadi di segala bidang. Maka gereja harus berinisiatif dan bertanggung jawab untuk mengembangkan kebudayaan, berperan serta dalam kehidupan sosial politik.

Tiga tahun kemudian, 1971, terbit Teologia de la Liberacion –Teologi Pembebasan– karya Gustavo Gutierrez, pastor dari Peru itu. Buku ini menguraikan secara jelas gagasan-gagasan dan tindakan-tindakan yang ditempuh para uskup Amerika Latin.
Sidang Celam II dan buku Gutierrez mendorong gereja untuk makin terlibat dalam perlawanan rakyat. Sebaliknya, rasa permusuhan penguasa dan orang-orang kaya terhadap gereja kian tajam. Seiring dengan meluasnya paham Teologi Pembebasan, gencar pula suara yang menuduh para pengikut teologi ini menerapkan ajaran marxis yang merekomendasikan perjuangan kelas dan perubahan radikal melalui revolusi kekerasan. Penggunaan analisis marxis “perjuangan kelas” dan “perubahan struktur” oleh para teolog Teologi Pembebasan, termasuk Gutierrez, dianggap para kritikus sebagai “dosa terhadap Kristianitas”.
Namun para tokoh Teologi Pembebasan membantah tuduhan tersebut. Camilo Torres, pastor dari Kolombia yang ikut bergerilya dan tewas, misalnya, mengaku sebenarnya tak ingin bergabung dengan para gerilyawan. “Berkali-kali saya dituduh menyuarakan revolusi dengan kekerasan. Manakala rakyat mempunyai keberanian untuk mengorganisasi diri, kelas penguasa cepat-cepat menuduh kita menghimpun revolusi dengan kekerasan. Kita tak ingin kekerasan, kita tak hendak menggunakan paksaan. Yang kita cita-citakan adalah bahwa suatu ketika kekuasaan akan berada di tangan rakyat,” katanya pada 1965.
Bahwa ia akhirnya menggunakan kekerasan, bergabung dengan kelompok gerilyawan komunis, memanggul senjata, menurutnya karena tak ada pilihan lain. Pemerintah dan aparat militer tak dapat diajak berbicara. Penguasa hanya mempunyai satu jalan: senjata. Tapi Camilo menolak bila dituduh komunis. “Saya tak pernah akan bergabung ke dalam aparatnya, dan saya tak hendak menjadi komunis, baik sebagai warga Kolombia, sebagai sosiolog, sebagai orang Kristen, maupun sebagai pastor. Namun saya bersedia berjuang bersama-sama mereka untuk meraih tujuan serupa, yakni melawan dan menentang oligarki dan dominasi Amerika Serikat agar kekuasaan kembali ke tangan rakyat,” katanya pada September 1965.

Pengikut Teologi Pembebasan memang tak menyangkal bahwa mereka menggunakan analisis marxis, tapi menolak bila dituduh “berdosa” terhadap Kristianitas. Gutierrez, yang mendalami tulisan-tulisan Marx sejak mahasiswa di Universitas San Marcos, tetap bersikap kritis terhadap kekurangan dan bahaya marxis.
Bagi Gutierrez, peranan marxisme hanyalah alat analisis yang dapat merekam dan mendeskripsikan keadaan tak adil dan praktek kekerasan yang melembaga di Amerika Latin. Menurut Gutierrez, “perjuangan kelas” yang dikumandangkan oleh Marx bukan hal baru bagi penganut Kristiani. Santo Lucas yang hidup sebelum Marx, kata Gutierrez, telah menyuarakan perjuangan kelas. Transformasi struktur, perubahan struktur kapitalisme yang menciptakan ketidakadilan dan kemiskinan rakyat banyak, bukanlah monopoli Marx. Injil, Gutierrez melanjutkan, sudah lebih dulu menganjurkannya. Untuk memperkuat argumentasinya, Gutierrez mengutip ayat-ayat dalam Injil. Misalnya dari Injil Lukas bab 1 ayat 51-53 yang antara lain berbunyi: “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang-orang lapar, dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa.”
Tak lupa ia menafsirkan makna kelahiran Yesus sebagai Sang Pembebas. Yesus, menurut Gutierrez, lahir untuk mewartakan kabar gembira kepada orang miskin, dan mewartakan pembebasan bagi mereka yang terbelenggu, yang telah dengan berani menghadapi serangan para penguasa Romawi yang menindas orang Yahudi. Berdasarkan argumentasi tersebut, ia menganggap tak ada salahnya meminjam pendekatan marxis untuk melaksanakan tugas sosial gereja. “Pentingnya konsepsi bukan ditentukan oleh siapa yang mengatakannya, melainkan oleh ketepatannya dalam mendeskripsikan dunia tempat kita hidup. Entah yang merumuskannya itu manusia Karl Marx atau manusia yang lain,” katanya.
Namun, Gutierrez tetap bersikap kritis terhadap marxis dan menempatkan Kristianitas sebagai pedoman hidup yang lebih unggul ketimbang marxis. Keunggulan Kristianitas, katanya, terletak pada kemampuannya melihat kemenangan setelah kematian. Sementara tentang maut, marxisme tak punya jawaban.

Pembenaran Gutierrez tersebut tak mengurangi kecurigaan berbagai pihak terhadap gerakan Teologi Pembebasan. Tahun 1984, Vatikan mengeluarkan instruksi yang melarang para imam Katolik terlibat dalam kegiatan politik praktis dan menggunakan pendekatan marxis. Bahkan sebelum itu, dari kalangan para uskup Amerika Latin yang tergabung dalam Celam sendiri sudah terdengar kritik terhadap penerapan marxisme. Dan pada Sidang Celam III di Puebla de los Angeles, Meksiko, pada 1979, mereka mengecam marxisme seraya mengutuk kapitalisme. Menurut mereka, kedua sistem itu membuat manusia menjadi budak ambisi kekayaan, kekuasaan, pengagungan kepentingan umum negara, seks, dan kenikmatan duniawi yang menggerogoti hubungan manusia dengan Tuhan. Namun, mereka tetap mengimbau untuk menggalakkan gerakan “umat basis” yang sudah dilakukan sebelumnya.
Toh, semangat Teologi Pembebasan terlanjur menjalar ke berbagai negara, terutama negara Dunia Ketiga yang mayoritas penduduknya beragama Katolik seperti Filipina. Ed de la Torre, penulis buku Touching Ground, Taking Root: Theological and Political Reflections on The Phillipine Struggle, menyimpulkan bahwa pengaruh Teologi Pembebasan itu terlihat pada gerakan massa yang menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos pada 1986. Umat Kristiani, katanya, terlibat aktif dalam gerakan rakyat untuk melakukan perubahan fundamental di bidang ekonomi dan politik.
Di Indonesia,

menurut Budhy Munawar Rachman, Manajer Program Studi Islam Yayasan Paramadina, bayang-bayang teologi itu tak begitu jelas. Yang agak kentara, katanya, justru pengaruh teori dependensi –pemikiran di bidang ekonomi– yang pernah dipakai sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pada 1970-an.
…”Gereja Katolik Indonesia tak mengimpor Teologi Pembebasan dari Amerika Latin itu,” ujar Romo Purbo.
Begitu pula menurut Romo Ismartono. “Tapi bukan berarti gereja menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi di masyarakat,” kata Romo Ismartono. Menurutnya, garis keterlibatan gereja di Indonesia dalam solidaritas sosial berpegang pada Instruksi Mengenai Kebebasan dan Pembebasan Kristiani yang dikeluarkan Tahta Tinggi Vatikan yang antikekerasan. “Butir-butir instruksi itu berbeda dengan yang ada pada Teologi Pembebasan di Amerika Latin. Gereja lebih memilih jalan reformasi ketimbang revolusi, yang sering memakan korban dan akhirnya melahirkan rezim totaliter,” lanjut Romo Ismartono kepada J. Eko Setyo Utomo dari Gatra.
Diambil dari Gatra Nomor 42 Tahun II, 31 Agustus 1996.

 
semoga gereja — dan juga lembaga-lembaga agama lain pada umumnya — di Indonesia dapat semakin menunjukkan keberpihakkan pada pembebasan….
-prana S

28
Sep

’bout pasangan, seagama, seiman…

Suatu malam,

setelah mengikuti suatu sesi PA (Pemahaman Alkitab), saya jadi semakin merenung dan pikiran melanglang buana, bagaimana supaya masalah ke’seiman’an tidak dengan mudah tereduksi menjadi ke’seagama’an, atau dengan kata lain bahwa ketika suatu pasangan itu ’seagama’ sangat tidak menjamin bahwa pasangan itu juga ’seiman’…

 

 

menurut saya ke’seiman’an itu hanya bisa dilihat ketika kita benar2 membuka diri kepada pasangan, memaparkan secara lugas tentang banyak sekali hal dalam diri kita, misalnya terhadap beberapa parameter berikut ini:

 

sikap kita mengenai hidup ini,

 

tentang apakah arti hidup ini

 

apakah mimpi besar kita dalam hidup ini (visi), 

 

mau kemana hidup kita ini dibawa (apa orientasi kita), 

 

apa nilai-nilai yang mendasari hidup ini,

 

apa target-target yang menjadi tujuan kita dalam menjalani hidup ini,

 

ukuran-ukuran keberhasilan kita dalam hidup sebagai manusia,

mengapa kita menetapkan ukuran2 tersebut,

 

kita bahagia bila,

 

siapakah Tuhan untuk kita

(khusus tentang ini, apakah bila kemudian paradigmanya berbeda maka secara otomatis pasti akan membuat semua parameter lainnya akan berbeda juga dan tidak akan cocok? dan bagaimana dinamikanya — bagaimanapun menurut saya belum tentu…) 

 

kita akan merasa berharga bila? kita akan minder bila?

 

siapakah diri kita untuk kita

 

siapakah diri pasangan kita untuk kita,

 

siapakah orang-orang lain di sekeliling kita untuk kita,

 

apakah bumi ini untuk kita,

 

bagaimana kita menghadapi, menyikapi dan bertindak atas berbagai situasi, masalah, bencana, atau issue kehidupan, dari lingkup terkecil (keluarga) sampai lingkup terbesar (isu2 dunia)

 

apakah yang baik dan benar itu,

 

 

bagaimana kita memandang mana kebutuhan dan mana keinginan,

 

apakah kesenangan kita,

 

apa motto2 yang sering tersirat dalam pikiran atau perkataan kita…

DAN

bagaimana semua pandangan, nilai, sikap di atas terimplementasi dalam perilaku pasangan / calon pasangan kita dalam keseharian?

 

sekali lagi, saya yakin bahwa kesamaan agama sama sekali tidak menjamin kompatibilitas atau ke’seiman’an kita dengan pasangan dalam berbagai hal di atas… dan pada akhirnya kesamaan agama tidak akan menjamin optimalnya perjalanan hubungan suatu pasangan.

 

Menurut saya hanya dengan memaparkan ‘keseimanan’ terhadap berbagai parameter di atas lah, maka perjalanan suatu hubungan dapat diperkirakan akan optimal atau tidak…

sehingga pada akhirnya

hanya dengan saling menjawab berbagai parameter di atas dengan jujur dan transparan, disertai dengan observasi mendalam yang dibekali kemampuan membedakan antara mana kenyataan dan harapan, mana keinginan dan kebutuhan, mana yang kebaikan-kebenaran dan mana yang ke-enak-an, maka kemudian kita bisa meninjau apakah diri kita dan pasangan kita benar2 ’seiman’ atau tidak…

 

dan yang perlu dieksplorasi lebih jauh, mendalam, dan jujur adalah bagaimana tentang kemungkinan bahwa pasangan yang tidak ’seagama’ ternyata dapat sangat kompatibel dalam berbagai parameter di atas… => dan dalam konteks pembicaraan ini kemudian => dapat menjadi sangat ’seiman’…

 

saya rasa berbagai parameter di atas pun masih dapat sangat dieksplorasi dan dikembangkan. Menarik juga kalau nantinya Gereja atau lembaga agama lannya, memiliki suatu tools analisa, sehingga ketika dalam membimbing umatnya yang akan memasuki suatu jenjang pernikahan, lembaga keagamaan itu semakin dapat mengoptimalkan fungsinya untuk dapat memberdayakan pasangan agar memasuki kehidupan pernikahan dengan suatu kesadaran dan tanggungjawab penuh.

Karena pernikahan adalah suatu kebersamaan seumur hidup, jadi tidak manusiawi bila gereja atau lembaga keagamaan lainnya hanya mengurus masalah administrasi-legal formalnya saja, dan tidak menggali dan menyadarkan pasangan yang akan menikah tentang berbagai hal yang sangat substansial di dalamnya.

 

selamat mencari dan menemukan pasangan ‘SEIMAN’

-prana S

 

(terima kasih untuk rekan guru sekolah minggu yang dahulu kala mencetuskan tentang isu ‘keseimanan’ ini, dan pada Pdt. Tohom Pardede yang kembali mengangkatnya saat PA, dan Mbak Ulin yang menunggu sharing saya sehingga terciptalah tulisan ini…)

16
Sep

’bout ngambek…

suatu ketika di masa lampau, teman gereja saya melontarkan pertanyaan di milis tentang Ngambek, berikut ulasan saya…

 

Ngambek:
dimulai ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, terutama dalam hal ini yang ada hubungannya dengan orang/pihak lain…lalu situasi diperburuk dengan ketidakmampuan diri untuk menerima kenyataan yang berbeda dengan harapan tersebut,
si pengambek mencoba mengubah kenyataan dengan memasang muka, gesture, tutur kata dengan harapan membuat pihak lain yg tidak memenuhi harapannya merasa tidak nyaman sehingga berbalik memenuhi harapannya tersebut…

kenapa ngambek? mungkin karena si pengambek merasa gak punya sumber daya lain lagi untuk memperjuangkan harapan / keinginannya yang tidak terpenuhi

jadi menurut saia, Ngambek itu lebih ke suatu strategi.
bagaiamana mengatasinya:
- mengajak si pengambek mencoba memahami kenyataan yang tidak sesuai harapannya, sehingga mungkin lebih bisa menyusun langkah selanjutnya untuk pemenuhan harapan dengan lebih efektif…
- mengajak si pengambek berlatih strategi lain dalam memperjuangkan harapan / keinginannya (misalnya kompromi, substitusi harapan, dsjnya…)

begitu… loh….

-prana S
 

 

 

20
Jul

’bout hate…

hate…

what is hate…

au ah, lagi malas mendefinisikan…

yang pasti kebencian membuat individu kehilangan banyak sekali hal…

bahkan sebanyak-banyaknya seseorang kehilangan berbagai hal adalah saat ia membenci sesuatu…

dan kedua hal ini berbanding lurus, baik dalam quantity & quality…(kebencian & kehilangan)

believe me, i know this exactLy, coz i’ve been there…

-prana S

20
Apr

bout’ si dia…

Beberapa waktu lalu saya membaca salah satu majalah untuk kawula muda, kalangan remaja-dewasa muda (sepertinya CitaCinta)…

Salah satu rubrik yang menarik perhatian saya adalah rubrik seks yang saat itu membahas berbagai posisi /

gaya

bercinta  yang okey untuk digunakan saat kedua pasangan sedang lelah…

Memang, asyik banget, ok, seru, saya juga ngebayangin banget tuh ngelakuin semua gaya-gaya yang dituliskan… uhhhh (tapi gak tahu kapan, gak ada lawannya booo, bLom merit pula, huehehe….)

Tapi setelah saya baca beberapa lama, ada satu fakta yang menyentak saya dalam artikel tersebut… yaitu tentang penggunaan kata ganti subyek…

Ok, begini situasinya…segmen pembaca majalah tersebut adalah para pihak wanita: remaja-dewasa muda….dan artikel tersebut menggunakan kata ganti ‘si dia’ untuk menyebutkan pihak pria dalam penulisan artikel tersebut….

Jadi kira-kira yang tertulis adalah demikian: “…serunya posisi ini adalah karena ketika kamu menunduk, maka Mr. Happy si dia akan semakin bebas memasuki…” atau “…dengan begitu, si dia akan maksimal dalam menstimulasi Miss V-mu….”

Semua, dari awal hingga akhir, artikel pihak wanita (segmen pembaca) diberikan kata ganti “kamu” dan pihak pria, atau lawan mainnya diberikan kata ganti “si dia”

Ketika saya telusuri lebih lanjut lagi di sepanjang majalah tersebut, seluruh artikel ternyata menggunakan kata “si dia” sebagai kata ganti bagi pihak pria, dan menggunakan kata “kamu” sebagai kata ganti bagi pihak wanita…yah, seluruh artikel yang ada, yang membahas tentang hubungan antara wanita-pria, terlepas dari apakah artikel tersebut membahas hubungan dalam konteks ketertarikan antar teman, rekan kerja, berpacaran, ataukah suami-istri…

Wow, ada apakah ini? apakah hanya kebetulan naif ataukah memang usaha sistematis untuk membentuk sikap permisif sepermisif mungkin, dengan menyetarakan level hubungan pria-wanita, sehingga dalam konteks apapun mereka bisa melakukan apapun (dalam hal ini adalah dalam hal sex),

dalam arti, misalnya, tidak perlu pihak pria menjadi ‘suamimu’, tetapi cukup menjadi ‘si dia’ untuk dapat menstimulasi Miss V-mu dengan Mr. Happinya…

pada akhirnya ‘si dia’ bisa berarti temanmu, pacarmu, atau siapapun yang bisa kau anggap ‘si dia’…

media, oh, media…industri, oh, industri…

aucchhh…

-prana S

06
Apr

’bout love-part3

Cinta tidak bisa dijelaskan…?

Bagaimana bila cinta didefinisikan sebagai suatu perasaan yang muncul dan membuat tubuh bermetabolisme lebih aktif (jantung berdegup kencang, mata berbinar, senyum semakin sering mengembang) serta pikiran terokupasi dengan berbagai hal positif tentang obyek yang memunculkan perasaan tersebut dalam diri (muncul optimisme, bahagia, penuh energi, dsjnya)?

Lalu kenapa muncul perasaan tersebut dalam diri terhadap suatu obyek…?

Bagaimana bila perasaan itu muncul karena obyek tersebut memenuhi harapan diri pecinta, bahwa obyek tersebut memiliki kualitas-kualitas yang sesuai dengan yang diharapkan oleh diri pecinta?

Kualitas-kualitas tersebut bisa kualitas fisik: berhidung mancung/pesek,  berbibir mungil/tebal, berumur tua/muda, gonrong/botak, berbadan kurus/montok, berambut pendek/panjang, berambut lurus/keriting, dsjnya…

kualitas mental: tenang/mudah panik, pemarah/penyabar, tekun/mudah menyerah, gesit/santai, produktif/statis, asertif/peragu, loyal/kutu loncat, bikin penasaran/mudah ditebak, pemikir/pelaku, suka memukul, suka membantu, dsjnya…

masih sangat banyak kualitas lain yang dapat dituliskan dan saling berkombinasi, serta pada akhirnya menjadi penentu apakah suatu obyek akan memunculkan suatu rasa ‘cinta’ dalam diri pecinta.

Lalu bagaimana bila obyek mulai kehilangan kualitas yang sesuai dengan harapan pecinta tersebut…

Yah, kemungkinannya dua,

pecinta secara buta (disini berlaku teori cinta itu buta, huehehe) akan terus mencoba berusaha bertahan dengan coba meyakinkan diri untuk terus mencintai obyek – misalnya dengan mengubah harapan, keinginan, persepsi terhadap obyek, atau menyusun berbagai justifikasi yang ia harapkan bisa menjadi dasar usahanya

(sebenarnya ini kondisi yang absurd, karena di masa awal, perasaan cinta muncul dengan sendirinya, tanpa perlu usaha dari pecinta, bahkan sepenuhnya berasal dari keberadaan obyek dengan seluruh kualitasnya yang hadir di hadapan pecinta, tapi kok sekarang harus pecinta yang bersusah payah memunculkan…)

Dalam situasi ini, pecinta menguras energinya dalam usaha untuk terus mencintai obyek…mungkin orang-orang yang tercemplung ke dalam situasi ini adalah yang terokupasi dengan ungkapan2 “cinta itu harus diperjuangkan”, “pertahankan keagungan cinta”, “cinta harus rela berkorban”, dsjnya… yang terokupasi dalam anggapan bahwa berhenti mencintai itu adalah sesuatu yang haram, tidak pantas, tidak elok, tidak agung…

(apakah kemudian menjadi halal bila akibat usaha untuk terus mencintai tersebut, diri pecinta menjadi terdestruksi)

atau

pecinta menerima kenyataan bahwa perasaan cinta dalam dirinya terhadap obyek sudah berhenti, sudah stop, karena kualitas obyek tidak sesuai lagi dengan harapan-harapannya.

Dengan menyadari hal tersebut, maka pecinta dapat mengevaluasi situasi yang ada secara obyektif, serta merancang solusi yang efektif (didorong harapan yang tersisa, tuntutan norma, maupun conscience dalam dirinya – sepertinya ini bedanya manusia dari binatang yang langsung mencari pasangan baru), daripada bersusah-payah mengubah harapannya sendiri, padahal sebenarnya harapan tersebut sudah kosong.

Bila hasil evaluasi menunjukkan bahwa memang harapan akan kualitas tidak sesuai dengan kualitas yang ada dan tidak dapat disesuaikan lagi, atau pecinta menilai dirinya tidak memiliki cukup energi dan kehendak untuk penyesuaian lebih lanjut, sehingga pada akhirnya tidak ditemukan solusi,

lalu apakah menjadi sesuatu yang haram dan tidak pantas bila pecinta memutuskan tidak lagi mencintai, tidak lagi memiliki rasa terhadap obyek, dan membebaskan perasaannya tersebut sampai suatu saat kembali menemukan pelabuhan yang sesuai dengan harapannya?

-prana S

24
Feb

’bout paradoXakaLbudi…

..sejak saya mendasarkan tinjauan tentang manusia pada pola pikir darwin, bahwa manusia merupakan evolusi dari hewan, maka saya pikir demikian juga potensi2 yang ada di dalam diri manusia…

Salah satu potensi tersebut yang sudah ada sejak pada diri hewan adalah insting. sepanjang sejarah kehidupan, instingLah yang menjadi salah satu bekal utama makhluk hidup untuk survive, untuk menentukan secara kilat suatu keadaan harus dihadapi dengan ‘bertahan (fight)’ atau ‘lari (fLy)’…untuk bekal bagi sang jantan & betina dalam memutuskan lawan jenis mana yang sesuai bagi dirinya untuk bereproduksi, dsjnya…

nah, insting pada binatang itu khan baru dia fungsikan, ketika si binatang sudah menghadapi suatu situasi objektif yg jelas di depan mata, so dia mengambil tindakan berdasarkan kondisi objektif tersebut (waktunya lari ketika mendengar suara yg tidak biasa, saatnya gelisah ketika ada perubahan suhu/tekanan udara, siap-siaga ketika melihat bahaya mengancam, dsjnya)

ketika makhLuk manusia dengan akal budinya perlahan terbentuk, muLailah akal-buDi dengan segala keunggulannya mengintervensi, berkolaborasi dengan & mengamplifikasi fungsi dasar, yaitu insting tersebut… keungguLan yang nantinya berbuntut pada paradox terbesar adalah kemampuan akal-budi dalam imajinasi, khayal, asumsi n dalam bentuk / turunan terburuknya adalah prasangka…

manusia sebagai makhluk pada puncak keunggulannya tidak lagi menyikapi dan bertindak berdasarkan situasi objektif yang dia hadapi, tapi lebih berdasarkan situasi subjektif, sesuai khayalannya, imajinasinya, asumsinya, kepentingannya, prasangkanya…

nah, dengan di-drive prasangkanya ini, mari kita hitung seberapa sering (sekelompok) manusia berlomba untuk merancang tindakan / perilaku yang efektif, untuk lebih dulu / saling mendominasi, menghegemoni, menguasai, mengalahkan, bahkan menghancurkan, (sekelompok) manusia lain, yang -secara subjektif- dalam khayalannya, asumsinya, prasangkanya, berbahaya untuk kelangsungan hidup dia / kelompoknya… dan semakin manusia beranjak dewasa saat akal-budi semakin berkembang, saat individu sudah semakin jauh dari rahim bunda, saat jarak menjauh dari titik nol, paradox pun semakin mengkLimaks…

inilah paradox terbesar akalBudi, yah, saat keberadaan akaLbudi (seharusnya) dapat menjadi penentu keagungan manusia, penentu peningkatan kualitas kehidupan dengan fungsinya untuk dapat memprediksi, mengantisipasi, mencipta…disaat itu pula terkandung potensi kehancuran individu, umat manusia, dunia, n kehidupan itu sendiri…

(thanx to Ms. Kiki untuk situasinya, yg memungkinkan saya menuliskan pemikiran di atas)

-prana S

11
Feb

’bout delusion…

Saat saya sedang membahas tentang delusi dengan salah satu kawan baik saya… dalam penelusuran, saya menemukan berbagai hal yang cukup menggemaskan tentang persepsi ilmiah mengenai delusi….

berangkat dari definisi dari Wikipedia mengenai delusi:

Psychiatric definition

…In the most recent Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, a delusion is defined as:

A false belief based on incorrect inference about external reality that is firmly sustained despite what almost everybody else believes and despite what constitutes incontrovertible and obvious proof or evidence to the contrary. The belief is not one ordinarily accepted by other members of the person’s culture or subculture (e.g., it is not an article of religious faith).

Gugatan saya:

Hal yang mengejutkan terutama ada pada kalimat terakhir dari definisi tersebut…

Bila diartikan lebih lanjut: jadi belief itu dapat dikatakan delusional bila tidak diterima oleh anggota lain dari kelompok budayanya (misalnya agama?)

wow, jadi walaupun  keyakinan seseorang bertentangan dengan fakta empiris / realitas yang ada,

(misalnya pihak otoritas suatu agama meyakini bahwa agamanya adalah yang paling benar, dan agama lain adalah salah, padahal fakta empiris menunjukkan bahwa berbagai agama yang ada melakukan / memberikan kebaikannya masing2;

atau pemimpin umat meyakini bahwa pernikahan antar agama adalah haram, namun pada realitasnya hal itu dapat saja dilakukan ketika kedua individu yang berbeda agama sudah membangun kesepakatan bersama untuk itu, dan pernikahan tersebut dapat tetap berjalan dengan penuh manfaat bagi pasangan tersebut dan lingkungan sekelilingnya -)

namun kelompoknya / umatnya meyakini bahwa keyakinan itu benar, maka keyakinan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai delusi?

Menurut saya, hal tersebut dapat dikatakan sebagai delusi kolektif (termasuk misalnya keyakinan sekelompok masyarakat bahwa Soeharto pantas disebut pahlawan)… — walau memang tidak ada istilah ini dalam literatur, atau saya yang belum menemukannya…

Jadi sepertinya kok delusi hanya menjadi permasalahan statistikal (mengenai apakah suatu belief sesuai dengan keyakinan sekelompok / sejumlah orang tertentu atau tidak) daripada suatu permasalahan apakah seseorang mampu menghayati realitas / fakta empirik secara komprehensif.

Sehingga menurut saya perlu ada rekonstruksi definisi tentang delusi, yaitu:

Keyakinan yang salah, yang bersumber dari tidak komprehensifnya proses sintesa & penghayatan terhadap realitas serta fakta empirik yang terdapat di sekeliling individu, terlepas apakah banyak orang yang mendukung keyakinan tersebut atau tidak. Keyakinan yang salah ini pada akhirnya menyebabkan individu tidak mampu menyikapi dan bertindak terhadap realitas disekelilingnya secara efektif dan produktif.

sehingga seluruh ajaran, rules, belief yang tidak relevan dan tidak sesuai dengan realitas / fakta empirik yang ada, dapat dikategorikan delusif.

-prana S

04
Feb

’bout love-part2…

cinta itu seharusnya membebaskan,

tidak membelenggu,

tidak melarang…

ituLah yg dilontarkan seseorang yg pernah sangat saya harapkan kehadirannya untuk menjadi pasangan hidup saya…ketika pada suatu hari saya meminta padanya untuk menyesuaikan beberapa perilakunya demi saya dapat merasa sebagai seseorang yg istimewa dalam hidupnya…

duLu, ya, saya termasuk yg sangat meng-amin-i rangkaian kata tentang ‘cinta’ di atas…

namun entah mengapa, tiba-tiba saat ini semua rangkaian tersebut menjadi suatu yang sangat picis, mungkin…mungkin karena tidak sesuai dengan kebutuhan saya, bias?mungkin…

satu kenapa yang pasti dalam pandangan saya…karena Sang Harapan, ternyata lebih memilih untuk mempertahankan perilaku yang menyamankan dirinya, dengan bertamengkan rangkaian kata di atas…daripada melakukan penyesuaian dengan sang pasangan…

apakah sebegitu berdosanya ketika meminta seseorang yang diharapkan untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan kebutuhan kita, dengan kebutuhan hubungan itu sendiri? Ketika bahkan permintaan tersebut tidak mendegradasikan keberadaannya sebagai manusia / tidak men-dehumanisasi-kannya (karena permintaan tersebut bukan tentang “kamu harus tinggal di rumah sebagai perawat anak & suami”, “kamu jam sekian harus sudah berada di rumah”, “kamu harus bisa ini atau itu, kalau tidak maka kamu payah…”)

ah sudahLah, memang setiap orang memiliki pilihannya masing-masing,

ketika tidak menjadi pilihan orang yang sangat kita harapkan, then we have a very hard assignment to be survive…

kepada Sang Harapan…

selamat menikmati kebebasan, selamat menikmati ketidak-terbelengguan…

-prana S

03
Feb

’bout harto-part2…

akhirnya, setelah berhari2 speechLess n menganga, akhirnya saya bisa mengumpulkan kesadaran untuk melanjutkan ’bout harto… akhirnya…

Ok, begini…mengapa saya katakan sikap media

massa

dalam pemberitaan tentang Soeharto, adalah sangat menjijikkan….

karena, menurut pencitraan media dari segi positif, Soeharto adalah:

- Bapak pembangunan

- teladan bangsa

- Sangat banyak jasanya

- Jenderal besar TNI

- Prajurit sejati

- Negarawan terhormat

- Pahlawan bangsa

- n Bla…bla…bla…pret…

Namun, apakah mereka juga gencar mempromosikan Soeharto dengan berbagai warisan2nya…? seperti:

- paradigma pembangunan-isme, yang menempatkan pembangunan fisik sebagai lokomotif dan indikator dari segi ekonomi sebagai dewa, sehingga pada akhirnya menumbuhkan dan merajalelakan sifat untuk mengukur semua pencapaian dari perolehan hasil, kepemilikan kuantitas materi, harta, dsjnya, tanpa peduli apakah prosesnya manusiawi di tengah masyarakat, yg menggiring masyarakat untuk berwatak korup, individualis & emang gue pikirin… (jadi ingat tentang bisnis yang mengutamakan berdirinya bangunan2 fisik – apartemen, pusat belanja, pusat2 konsumtivisme lainnya – tak peduli bahwa itu tidak berwawasan lingkungan, masyarakat, atau apa pun, djsnya)

- pola perekonomian kapitalistis, serta pembangunan industrialis, dan kota-istis sehingga semua masyarakat digiring untuk merasa – dan memang – hanya dapat hidup di kota, hidup dari pabrik, hidup dari mesin, hidup dari perusahaan… memenuhi kota seperti tikus2 yg dimampatkan dalam got, dengan taraf hidup seadanya dan semakin menurun, merasa hanya dapat hidup dengan mengonsumsi barang2 buatan pabrik (jadi ingat tentang jakarta yg semakin tidak sehat dan terasa bodoh, jadi ingat tentang iklan pemutih kulit, dll, …dsjnya)

- pola hukum main hakim sendiri, merasa diri yang paling benar, mempidana tanpa pengadilan demi kepentingan diri & golongan – pemenjaraan para tapol, pembantaian orang2 yang ‘disangka’ PKI, mencap subversif dengan serampangan… (jadi ingat maling ayam dibakar, Bung Munir mati diracun, orang yg ‘disangka’ copet dipukuli sampai habis, pengrusakan fasilitas ibadah antar golongan…dsjnya)

- pola pembangunan sentralistik yang bersifat komando, intimidatif, dominatif, yang tidak melibatkan masyarakat sebagai subyek yang ikut membangun / mengembangkan, melainkan hanya melihat mereka sebagai obyek yg harus menerima program yang ada dari atas, yang bahkan sah untuk dikorbankan demi program pembangunan dari si “bapak pembangunan” (jadi ingat tentang kasus kedungombo, program KB, posyandu, penyeragaman padi & berbagai tanaman2 produksi, kebun kelapa sawit, BPPC, HPH, penindasan masyarakat demi kepentingan pemodal2, dsjnya)

- pola keadilan sosial (bila ada) yang bersifat karitatif, hanya membagi2kan sembako dsbnya, dan tidak transformatif dengan menjadikan masyarakat berdaya-bersama, dengan menyelenggarakan sistem yang menyediakan kesempatan yang sama bagi setiap anggota masyarakat. (jadi ingat kemarin ada berita tentang kelakukan soeharto sekeluarga yg selalu bagi2 sembako utk masyarakat di sekitar tapos & kediaman mereka, dsjnya)

- pola penanaman disiplin yg sangat behavioristik dengan hukuman2 yg represif, yg pada hakikatnya membuat masyarakat patuh karena takut, tertekan, djsnya; tanpa menggali, mengembangkan potensi individu & masyarakat untuk mampu patuh dan berdisiplin secara sadar. Sehingga ketika si penghukum tumbang, masyarakat tersulut dalam eforia & berkartarsis secara barbar, karena merasa lepas dari ketertindasan… (melawan arus lalu lintas, melanggar rambu, lampu merah, manipulasi pajak, penyuapan demi tembusnya proyek, dsjnya)

- pola sistem pendidikan yang seperti produksi dalam pabrik yaitu untuk menghasilkan barang yang sama & seragam dari sabang sampai merauke, dalam hal ini memproduksi peserta didik untuk menjadi buruh2 yang siap dipasok ke industri, ketimbang mendidik peserta didik untuk berkembang mengoptimalkan kreativitas, potensi sehingga mampu hidup dengan sumber daya yang ada di sekitar mereka, tanpa harus merasa harus tergiring ke kota, pusat2 industri demi dapat hidup (misalnya apakah itu hidup dari mengolah tanah, hutan, tanaman, laut, dsjnya)

harto, harto…

media? cover both side? tai kucing…

yah, semoga kita semua dapat ingat dan menyikapi dg efektif bahwa kroni, anak2 didikan, antek2 bung harto masiy menguasai negara ini dengan semua warisan & siap untuk terus menyebar virus2 di atas (jadi ingat para penjenguk soeharto yang cengangas-cengenges di RSPP waktu itu),

just beware, be aware…

bahagianya media & politisi di negeri alpa…

-prana S